Dasar-dasar Pendidikan MIPA

BAB I
PENDAHULUAN



Dewasa ini yang masih menjadi pembicaraan hangat dalam masalah mutu pendidikan adalah prestasi belajar siswa dalam suatu bidang ilmu tertentu. Menyadari hal tersebut, maka pemerintah bersama para ahli pendidikan, berusaha untuk lebih meningkatkan mutu pendidikan. Upaya pembaruan pendidikan telah banyak dilakukan oleh pemerintah, diantaranya melalui seminar, lokakarya dan pelatihan-pelatihan dalam hal pemantapan materi pelajaran serta metode pembelajaran untuk bidang studi tertentu misalnya IPA, Matematika dan lain-lain. Sudah banyak usaha yang dilakukan oleh Indonesia untuk meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia, khususnya pendidikan Matematika di sekolah, namun belum menampakkan hasil yang memuaskan, baik ditinjau dari proses pembelajarannya maupun dari hasil prestasi belajar siswanya.
Dari beberapa mata pelajaran yang disajikan pada sekolah, MIPA adalah mata pelajaran yang menjadi kebutuhan system dalam melatih penalarannya. Melalui pengajaran MIPA diharapkan akan menambah kemampuan, mengembangkan keterampilan dan aplikasinya.. Oleh karenanya semua masalah kehidupan yang membutuhkan pemecahan secara cermat dan teliti selalu harus merujuk pada matematika.
Matematika dan IPA sebagai salah satu mata pelajaran yang diajarkan mulai dari jenjang pendidikan dasar, selain sebagai sumber dari ilmu yang lain juga merupakan sarana berpikir logis, analis, dan sistematis dan konsisten. Sebagai mata pelajaran yang berkaitan dengan konsep-konsep yang abstrak, maka dalam penyajian materi pelajaran, matematika dan IPA harus dapat disajikan lebih menarik dan sesuai dengan kondisi dan keadaan siswa. Hal ini tentu saja dimaksudkan agar dalam proses pembelajaran siswa lebih aktif dan termotivasi untuk belajar. Untuk itulah perlu adanya pendekatan dan metode khusus yang diterapkan oleh guru.
Pembelajaran matematika dan IPA yang saat ini berlangsung di lapangan umumnya verbalisme, artinya guru cenderung untuk menjelaskan materi–materi MIPA dan konsep–konsep MIPA dengan menggunakan metode ceramah yang notabene merupakan metode termudah dan termurah. Tetapi dengan cara konvensional semacam ini, apakah makna dari belajar atau learning itu sendiri tersentuh? Dan apakah dengan cara–cara belajar semacam ini susuai dengan eksistensi psikologis siswa itu sendiri. Cara–cara belajar MIPA yang semacam ini tentu jauh dari hakikat MIPA itu sendiri. Nada sinis yang sering dijadikan kelakar bahwa cara mengajar seperti itu dikatakan “ Sastra MIPA”. Artinya tidak ada bedanya antara pembelajaran bahasa Indonesia dengan MIPA.
Salah satu hambatan dalam peningkatkan kualitas pendidikan MIPA, di antaranya adalah mitos yang telah melekat pada sebagian besar bangsa Indonesia. MIPA selama ini sering diasumsikan dengan berbagai hal yang berkonotasi negatif, dari mulai MIPA sebagai ilmu yang sangat sukar, ilmu hafalan tentang rumus, berhubungan dengan kecepatan hitung, ilmu abstrak yang tidak berhubungan dengan realita, sampai pada ilmu yang membosankan, kaku, dan tidak rekreatif. Semakin lengkap pula ketika mitos-mitos ini disertai dengan sikap guru matematika yang dalam menyampaikan pelajarannya, galak, tidak menarik, bahkan cenderung menciptakan rasa takut dan tegang pada anak. Situasi semacam ini semakin menjauhkan rasa ketertarikan siswa dalam mempelajari MIPA. Apa lagi jika siswa tersebut merasa dirinya memiliki kemampuan berfikir yang kurang dibandingkan teman-temannya.









BAB II
PEMBAHASAN



A. Pengertian Pendekatan dan Metode
Metode dibedakan dari pendekatan. Pendekatan lebih menekankan pada strategi dalam perencanaan, sedangkan metode lebih menekankan pada teknik pelaksanaannya. Satu pendekatan yang direncanakan untuk satu pembelajaran mungkin dalam pelaksanaan proses tersebut digunakan beberapa metode. Sebagai contoh dalam pembelajaran pencemaran lingkungan. Pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran tersebut dapat dipilih dari beberapa pendekatan yang sesuai, antara lain pendekatan lingkungan. Ketika proses pembelajaran pencemaran lingkungan dilaksanakan dengan pendekatan lingkungan tersebut dapat digunakan beberapa metode, misalnya metode observasi, metode didkusi dan metode ceramah. Supaya lebih jelas ikuti perencanaan yang dilakukan oleh seorang guru ketika akan memberi pembelajaran pencemaran lingkungan tersebut. Pada awalnya ia memilih pendekatan lingkungan, berarti ia akan menggunakan lingkungan sebagai fokus pembelajaran. Pada akhir pembelajaran melalui konsep pencemaran lingkungan siswa akan memahami tentang lingkungan sekitarnya apakah sudah tercemar atau tidak. Untuk merealisasikan hal tersebut ia menggunakan metode diskusi dan ceramah. Dalam pembelajarannya ia membuat suatu masalah untuk didiskusikan oleh siswa kemudian ia akan mengakhiri pembelajaran tadi dengan memberi informasi yang berkaitan dengan hasil diskusi. Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa metode dan pendekatan dirancang untuk mencapai keberhasilan suatu tujuan pembelajaran.
Metode pembelajaran adalah prosedur, urutan, langkah-langkah, dan cara yang digunakan guru dalam pencapaian tujuan pembelajaran. Dapat dikatakan bahwa metode pembelajaran merupakan jabaran dari pendekatan. Satu pendekatan dapat dijabarkan ke dalam berbagai metode pembelajaran. Dapat pula dikatakan bahwa metode adalah prosedur pembelajaran yang difokuskan ke pencapaian tujuan.
Terdapat tiga perbedaan pandangan mendasar dalam pembelajaran. Pertama, yang semula memandang matematika hanya sebagai pengetahuan dan prosedur yang harus diajarkan, menjadi suatu keterkaitan ide-ide dan proses melakukan penalaran. Kedua, belajar yang semula dipandang sebagai aktivitas individu untuk menguasai prosedur melalui penjelasan guru, menjadi aktivitas berkolaborasi untuk memperoleh pemahaman dengan usaha sendiri. Ketiga, mengajar yang semula berupa penyampaian kurikulum secara terstruktur, menjelaskan materi, dan mengoreksi kekeliruan siswa, menjadi menggali pengetahuan melalui dialog, menyajikan permasalahan tanpa diawali dengan penjelasan atau contoh, dan ketidakpahaman siswa dijadikan titik awal untuk pembenaran pengetahuan yang perlu dipahami siswa.
Dari metode, teknik pembelajaran diturunkan secara aplikatif, nyata, dan praktis di kelas saat pembelajaran berlangsung. Teknik adalah cara kongkret yang dipakai saat proses pembelajaran berlangsung. Guru dapat berganti-ganti teknik meskipun dalam koridor metode yang sama. Satu metode dapat diaplikasikan melalui berbagai teknik pembelajaran. Bungkus dari penerapan pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran tersebut dinamakan model pembelajaran.
B. Macam-macam Pendekatan Proses Belajar Mengajar
Pembelajaran matematika dan sains di sekolah tidak dapat dilepaskan dari pendekatan yang digunakan oleh guru. Dan pendekatan tersebut biasanya dipengaruhi oleh pemahaman guru tentang sifat matematika dan sains, bukan oleh apa yang diyakini paling baik untuk proses pembelajaran matematika di kelas. Guru yang memandang matematika dan sains sebagai produk yang sudah jadi akan mengarahkan proses pembelajaran siswa untuk menerima pengetahuan yang sudah jadi. Guru akan cenderung mengisi pikiran siswa dengan sesuatu yang sudah jadi. Sementara, guru yang memandang bahwa matematika dan sains merupakan suatu proses akan lebih menekankan aspek proses daripada aspek produk dalam pembelajaran matematika dan sains. (Marpaung, 1998).
Untuk menumbuhkan minat siswa terhadap matematika, pembelajaran matematika di sekolah dalam penyajiannya harus diupayakan dengan cara yang lebih menarik bagi siswa.
Pendekatan-pendekatan yang dapat digunakan dalam pembelajaran MIPA antara lain sebagai berikut :
1. Pendekatan Tujuan Pembelajaran
Pendekatan ini berorientasi pada tujuan akhir yang akan dicapai. Sebenarnya pendekatan ini tercakup juga ketika seorang guru merencanakan pendekatan lainnya, karena suatu pendekatan itu dipilih untuk mencapai tujuan pembelajaran. Semua pendekatan dirancang untuk keberhasilan suatu tujuan.
Sebagai contoh : Apabila dalam tujuan pembelajaran tertera bahwa siswa dapat mengelompokan unsur-unsur yang termasuk logam, maka guru harus merancang pembelajaran, yang pada akhir pembelajaran tersebut siswa sudah dapat mengelompokan unsur-unsur logam. Metode yang digunakan untuk mencapai tujuan tersebut dapat berupa metode tugas.
2. Pendekatan Pengorganisasian Konsep
Pendekatan pengorganisasian konsep dari D. Ausubel adalah suatu pendekatan mengajar yang didasari oleh teori bahwa belajar adalah suatu proses mental, yang mengembangkan cara berpikir kritis, logis dan kreatif. Menurut D. Ausubel belajar berlangsung pada struktur kognitif yang ada.
Pembelajaran dengan menggunakan pendekatan pengorganisasian konsep berarti siswa dibimbing memahami suatu bahasan melalui pemahaman konsep yang terkandung di dalamnya. Dalam proses pembelajaran tersebut penguasaan konsep dan subkonsep yang menjadi fokus. Dengan beberapa metode siswa dibimbing untuk memahami konsep.

3. Pendekatan Lingkungan
Penggunaan pendekatan lingkungan berarti mengaitkan lingkungan dalam suatu proses belajar mengajar. Lingkungan digunakan sebagai sumber belajar. Untuk memahami materi yang erat kaitannya dengan kehidupan sehari – hari sering digunakan pendekatan lingkungan.
4. Pendekatan Inkuiri
Pendekatan inkuiri adalah suatu proses dimana dalam suatu kegiatan siswa dan guru secara berkelanjutan menjadi seorang penanya, menjadikan siswa sebagai orang yang selalu ingin mencari sebab dalam pikirannya terdapat pertanyaan dan ingin tahu ”Apa yang terjadi bila:……?
Penggunaan pendekatan inkuiri berarti membelajarkan siswa untuk mengendalikan situasi yang dihadapi ketika berhubungan dengan dunia fisik yaitu dengan menggunakan teknik yang digunakan oleh para ahli peneliti ( Dettrick, G.W., 2001 ). Pendekatan inkuiri dibedakan menjadi inkuiri terpempin dan inkuiri bebas atau inkuiri terbuka. Perbedaan antara keduanya terletak pada siapa yang mengajukan pertanyaan dan apa tujuan dari kegiatannya.
Dalam pembelajaran MIPA berpikir dengan proses inkuiri dapat terlihat melalui kegiatan yang lebih luas lagi seperti, kegiatan berikut:
a. Mengobservasi objek atau fenomena tertentu,
b. Mengemukakan hasil pengamatan,
c. Menggunakan alat ukur yang tepat,
d. Mengembangkan keterampilan menggunakan alat laboratorium, dll.
Inkuiri dibentuk dan meliputi ”discovery”, karena siswa harus menggunakan kemampuan “discovery” dan lebih banyak lagi dengan kata lain,”inquiry” adalah suatu perluasan proses-proses “discovery” yang digunakan dalam cara yang lebih dewasa. Sebagai tambahan pada proses-proses “discovery”,” ínquiry” mengandung proses-proses mental yang lebih tinggi tingkatannya, misalnya merumuskan problem, merancang eksperimen, melakukan eksperimen, mengumpulkan dan menganalisis data, menarik kesimpulan, mempunyai sikap-sikap obyektif, jujur, hasrat ingin tahu, terbuka dan sebagainya.
5. Pendekatan Penemuan ( Discovery )
Penggunaan pendekatan penemuan berarti dalam kegiatan belajar mengajar siswa diberi kesempatan untuk menemukan sendiri fakta dan konsep tentang fenomena ilmiah. Penemuan tidak terbatas pada menemukan sesuatu yang benar – benar baru. Pada umumnya materi yang akan dipelajari sudah ditentukan oleh guru, demikian pula situasi yang menunjang proses pemahaman tersebut. Siswa akan melakukan kegiatan yang secara langsung berhubungan dengan hal yang akan ditemukan.
6. Pendekatan Proses
Pada pendekatan proses, tujuan utama pembelajaran adalah mengembangkan kemampuan siswa dalam keterampilan proses seperti mengamati, berhipotesa, merencanakan, menafsirkan, dan mengkomunikasikan. Pendekatan keterampilan proses digunakan dan dikembangkan sejak kurikulum 1984. Penggunaan pendekatan proses menuntut keterlibatan langsung siswa dalam kegiatan belajar.
7. Pendekatan Interaktif ( Pendekatan Pertanyaan Anak )
Pendekatan ini memberi kesempata pada siswa uuntuk mengajukan pertanyaan untuk kemudian melakukan penyelidikan yang berkaitan dengan pertanyaan yang mereka ajukan ( Faire & Cosgrove, 1988 dalam Herlen W, 1996 ). Pertanyaan yang diiajukn siswa sangat bervariasi sehingga guru perlu melakukan langkah – langkah mengumpulkan, memilih, dan mengubah pertanyaan tersebut menjadi suatu kegiatan yng spesifik.
8. Pendekatan Pemecahan Masalah (Problem Solving Approach)
Pendekatan pemecahan masalah berangkat dari masalah yang harus dipecahkan melalui praktikum atau pengamatan. Dalam pendekatan ini ada dua versi. Versi pertama siswa dapat menerima saran tentang prosedur yang digunakan, cara mengumpulkan data, menyusun data, dan menyusun serangkaian pertanyaan yang mengarah ke pemecahan masalah. Versi kedua, hanya masalah yang dimunculkan, siswa yang merancang pemecahannya sendiri. Guru berperan hanya dalam menyediakan bahan dan membantu memberi petunjuk.
Dengan pendekatan pemecahan masalah, menekankan agar pembelajaran memberikan kemampuan bagaimana cara memecahkan masalah yang objektif dan tahu benar apa yang dihadapi. Kesimpulan yang secara mendasar dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari. Karena sepanjang orang hidup, ia akan dihadapkan pada masalah.
9. Pendekatan Sains Teknologi Dan Masyarakat ( STM )
Wellington (1984) mengemukakan tentang pentingnya pembelajaran IPA yang menggaris bawahi tiga aspek, yakni konsep, proses dan konteks. Sesuai dengan pandangan tersebut, salah satu pembaruan dalam pembelajaran IPA yang telah berlangsung dan terus dikembangkan selama ini adalah pembelajaran IPA dengan Pendekatan Sains, Teknologi dan Masyarakat (Pendekatan STM).
Pembelajaran dengan pendekatan STM mengembangkan materi dalam lingkup yang dapat digambarkan sebagai berikut:
Sains
PBM
Teknologi Masyarakat
Gambar 1
Keterkaitan Sains, Teknologi, Dan Masyarakat

Hasil penelitian dari National Science Teacher Association (NSTA) (dalam Poedjiadi, 2000) menunjukan bahwa pembelajaran sains dengan menggunakan pendekatan STM mempunyai beberapa perbedaan jika dibandingkan dengan cara biasa. Perbedaan tersebut ada pada aspek : kaitan dan aplikasi bahan pelajaran, kreativitas, sikap, proses, dan konsep pengetahuan. Melalui pendekatan STM ini guru dianggap sebagai fasilitator dan informasi yang diterima siswa akan lebih lama diingat. Sebenarnya dalam pembelajaran dengan menggunakan pendekatan STM ini tercakup juga adanya pemecahan masalah, tetapi masalah itu lebih ditekankan pada masalah yang ditemukan sehari – hari, yang dalam pemecahannya menggunakan langkah – langkah ilmiah.
Dengan pendekatan Sains, Teknologi, dan Masyarakat (STM), pembelajaran dikembangkan dengan karakteristik sebagai berikut:
1) Materi yang dikembangkan berkaitan dengan:
a) Kurikulum MIPa yang berlaku
b) Memiliki keterkaitan antara sains, teknologi dan masyarakat
c) Mendorong pengembangan inkuiri skill
d) Berkaitan dengan kebutuhan siswa
e) Menunjukkan adanya falsafah MIPA.
2) Pembelajaran dikembangkan dengan landasan teori belajar konstruktivis. Ada usaha mengaitkan informasi baru dalam pengetahuan yang telah ada.
3) Ada kegiatan kelompok, untuk membuat solusi bersama, mengintegrasikan solusi dalam pengetahuan yang telah ada.
4) Pembelajaran dikembangkan melalui tiga tahapan, yaitu tahap eksplorasi, tahap pengenalan konsep dan tahap aplikasi.
5) Ada masalah yang sesuai dengan materi dan perkembangan anak.
10. Pendekatan Terpadu
Pendekatan ini merupakan pendekatan yang intinya memadukan dua unsur atau lebih dalam suatu kegiatan pembelajaran. Pemaduan dilakukan dengan menekankan pada prinsip keterkaitan antar satu unsur dengan unsur lain, sehingga diharapkan terjadi peningkatan pemahaman yang lebih bermakna dan peningkatan wawasan karena satu pembelajaran melibatkan lebih dari satu cara pandang.
11. Pendekatan Tingkat Perkembangan Dari Piaget
Pendekatan tingkat perkembangan ini dirintis berdasarkan teori Belajar dari Piaget yang merupakan salah satu pendekatan yang beranggapan bahwa belajar adalah memrulakan pengembangan aspek kognitif sebagai bekal untuk dapat memecahkan persoalan yang dihadapi siswa dalam kehidupannya dan untuk mengembangkan kehidupan yang lebih baik.
12. Pendekatan Induktif-Deduktif dari Hilda Taba
Pendekatan Induktif-Deduktif data pembelajaran adalah salah satu pendekatan yang berorientasi pada paham bahwa belajar pada dasarnya adalah pengembangan intelektual. Pengembangan intelektual seseorang akan berkembang melalui dua cara yaitu:
Secara Induktif: Jika teori yang diperoleh menjadi generalisasi dan faktor-faktor empiris. Dengan pendekatan induktif orang mulai dari teori-teori kecil yang telah diuji berkali-kali kemudian disusun ke atas menjadi suatu generalisasi.
Secara deduktif: Teori dibangun dengan dasar logis dan kemudian diuji berkali-kali melalui eksperimen yang sifatnya ditentukan oleh teori tersebut.
Dalam pendekatan induktif sering orang menggabungkan dengan pendekatan inkuiri menjadi pendekatan induktif inkuiri untuk dapat menemukan sesuatu, “discover” sesuatu yang baru.
Suatu kegiatan “discovery” ialah suatu kegiatan atau pelajaran yang dirancang sedemikian rupa sehingga siswa dapat menemukan konsep-konsep dan prinsip-prinsip melalui proses mentalnya sendiri.
13. Pendekatan Open-Ended
Pembelajaran dengan pendekatan Open-ended diawali dengan memberikan masalah terbuka kepada siswa. Kegiatan pembelajaran harus mengarah dan mengantarkan siswa dalam menjawab masalah dengan banyak cara serta mungkin juga dengan banyak jawaban yang benar, sehingga merangsang kemampuan intelektual dan pengalaman siswa dalam proses menemukan sesuatu yang baru.
Pendekatan Open-ended memberikan kesempatan kepada siswa untuk menginvestigasi berbagai strategi dan cara yang diyakininya sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya untuk mengelaborasi permasalahan. Tujuannya tiada lain adalah agar kemampuan berpikir matematika dan sains siswa dapat berkembang secara maksimal dan pada saat yang sama kegiatan-kegiatan kreatif dari setiap siswa terkomunikasikan melalui proses pembelajaran. Inilah yang menjadi pokok pikiran pembelajaran dengan pendekatan Open-ended, yaitu pembelajaran yang membangun kegiatan interaktif antara MIPA dan siswa sehingga mendorong siswa untuk menjawab permasalahan melalui berbagai strategi.
Pembelajaran dengan pendekatan Open-ended mengharapkan siswa tidak hanya mendapatkan jawaban tetapi lebih menekankan pada proses pencarian suatu jawaban. Suherman, dkk (2003) mengemukakan bahwa dalam kegiatan matematika dan kegiatan siswa disebut terbuka jika memenuhi ketiga aspek berikut:
1) Kegiatan siswa harus terbuka. Yang dimaksud kegiatan siswa harus terbuka adalah kegiatan pembelajaran harus mengakomodasi kesempatan siswa untuk melakukan segala sesuatu secara bebas sesuai kehendak mereka.
2) Kegiatan matematika merupakan ragam berpikir. Kegiatan matematika adalah kegiatan yang di dalamnya terjadi proses pengabstraksian dari pengalaman nyata dalam kehidupan sehari-hari ke dalam dunia MIPA atau sebaliknya.
3) Kegiatan siswa dan kegiatan matematika merupakan satu kesatuan. Dalam pembelajaran matematika, guru diharapkan dapat mengangkat pemahaman dalam berpikir matematika sesuai dengan kemampuan individu.
Penerapan pendekatan Open-ended dalam pembelajaran matematika dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan kegiatan kreatif dan berpikir MIPA secara simultan. Dalam menyelesaikan suatu permasalahan siswa tidak terpaku hanya pada satu jawaban yang mungkin. Oleh karena itu, hal yang harus diperhatikan adalah memberikan kesempatan dan kebebasan yang seluas-luasnya kepada siswa untuk berpikir dalam mencari alternatif pemecahan dari suatu masalah yang dihadapi sesuai dengan kemampuan, sikap, dan minat yang dimilikinya sehingga pada akhirnya akan membentuk intelegensi MIPA mereka.
C. Macam-macam Metode Pendidikan dan Pembelajaran
Cara mengajar atau lebih dikenal sebagai metode pembelajaran, menyangkut cara guru memberikan pengalaman belajar siswa sehingga kemampuannya dapat berkembang, dan belajar dapat berjalan secara efisien serta bermakna bagi siswa.
Beberapa metode yang sering digunakan dalam pembelajaran adalah :
1. Metode Ceramah Bermakna
Metode ceramah adalah metode penyampaian bahan pelajaran secara lisan. Metode ini banyak dipilih guru karena mudah dilaksanakan dan tidak membutuhkan alat bantu khusus serta tidak perlu merancang kegiatan siswa. Dalam pengajaran yang menggunakan metode ceramah terdapat unsur paksaan. Dalam hal ini siswa hanya diharuskan melihat dan mendengar serta mencatat tanpa komentar informasi penting dari guru yang selalu dianggap benar itu. Padahal dalam diri siswa terdapat mekanisme psikologis yang memungkinkannya untuk menolak disamping menerima informasi dari guru. Inilah yang disebut kemampuan untuk mengatur dan mengarahkan diri.
Salah satu ciri adanya metode ceramah bermakna yaitu guru mengajukan pertanyaan-pertayaan yang membuat siswa berfikir. Selain itu, guru harus mempersiapkan pertanyaan yang akan diajukan dan guru harus mempertimbangkan dimana pertanyaan itu harus digunakan.
2. Metode Tanya Jawab
Metode tanya jawab dapat menarik dan memusatkan perhatian siswa. Dengan mengajukan pertanyaan yang terarah, siswa akan tertarik dalam mengembangkan daya pikir. Kemampuan berpikir siswa dan keruntutan dalam mengemukakan pokok – pokok pikirannya dapat terdeteksi ketika menjawab pertanyaan. Metode ini dapat menjadi pendorong bagi siswa untuk mengadakan penelusuran lebih lanjut pada berbagai sumber belajar. Metode ini akan lebih efektif dalam mencapai tujuan apabila sebelum proses pembelajaran siswa ditugasi membaca materi yang akan dibahas.
3. Metode Diskusi
Metode diskusi adalah cara pembelajaran dengan memunculkan masalah. Dalam diskusi terjadi tukar menukar gagasan atau pendapat untuk memperoleh kesamaan pendapat. Dengan metode diskusi keberanian dan kreativitas siswa dalam mengemukakan gagasan menjadi terangsang, siswa terbiasa bertukar pikiran dengan teman, menghargai dan menerima pendapat orang lain, dan yang lebih penting melalui diskusi mereka akan belajar bertanggung jawab terhadap hasil pemikiran bersama.
Dalam pembelajaran, yang dimaksud dengan metode diskusi adalah terlibatnya suatu kelompok belajar yang saling berinteraksi secara verbal di kelas. Interaksi tersebut dapat berlangsung antara siswa antara siswa dengan siswa atau guru.
Table 1
Taksonomi Diskusi
Jenis Diskusi Tujuan Orientasi Kuantitas kemampuan diskusi
Brainstorming Kreatifitas mengemukakan ide Proses Kemampuan diskusi rendah
Tutorial Kemampuan individu untuk bertanya kemampuan dasar Proses
Produk
Panel Membahas ide
Berpikir reflektif
Analisis penyampaian informasi Proses Kemampuan diskusi paling tinggi

4. Metode Belajar Kooperatif
Dalam metode ini terjadi interaksi antar anggota kelompok dimana setiap kelompok terdiri dari 4-5 orang. Semua anggota harus turut terlibat karena keberhasilan kelompok ditunjang oleh aktivitas anggotanya, sehingga anggota kelompok saling membantu. Model belajar kooperatif yang sering diperbincangkan yaitu belajar kooperatif model jigsaw yakni tiap anggota kelompok mempelajari materi yang berbeda untuk disampaikan atau diajarkan pada teman sekelompoknya.
5. Metode Demonstrasi
Metode demonstrasi adalah cara penyajian pelajaran dengan memeragakan suatu proses kejadian. Metode demonstrasi biasanya diaplikasikan dengan menggunakan alat – alat bantu pengajaran seperti benda – benda miniatur, gambar, perangkat alat – alat laboratorium dan lain – lain. Akan tetapi, alat demonstrasi yang paling pokok adalah papan tulis dan white board, mengingat fungsinya yang multi proses. Dengan menggunakan papan tulis guru dan siswa dapat menggambarkan objek, membuat skema, membuat hitungan matematika, dan lain – lain peragaan konsep serta fakta yang memungkinkan.
Secara garis besar persiapan guru untuk menggunakan metode demonstrasi ini sama dengan metode eksperimen. Perbedaanya antara lain adalah pada metode demonstrasi tiap percobaan tidak dilakukan oleh setiap siswa tetapi satu atau dua siswa, dan yang lain sebagai pengamat.
6. Metode Ekspositori atau Pameran
Metode ekspositori adalah suatu penyajian visual dengan menggunakan benda dua dimensi atau tiga dimensi, dengan maksud mengemukakan gagasan atau sebagai alat untuk membantu menyampaikan informasi yang diperlukan.
Metode ini sama seperti metode ceramah dalam hal terpusatnya kegiatan interaksi pada guru sebagai pemberi informasi (bahan pelajaran). Tetapi pada metode ekspositori dominasi guru banyak berkurang, karena tidak terus bicara saja. Ia berbicara pada awal pelajaran, menerangkan materi dan contoh soal, dan pada waktu yang diperlukan saja.
Beberapa hasil penelitian (di Amerika Serikat) menyatakan ekspositori merupakan cara mengajar yang paling efektif dan efisien. Demikian pula keyakinan sementara ahli teori belajar mengajar. David P. Ausubel di antaranya berpendapat metode ekspositori yang baik adalah cara mengajar yang paling efektif dan efisien dalam menanamkan belajar bermakna (meaningful learning).
7. Metode Karyawisata/Widyamisata
Metode karyawisata/widyawisata adalah cara penyajian dengan membawa siswa mempelajari materi pelajaran di luar kelas. Karyawisata memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar, dapat meransang kreativitas siswa, informasi dapat lebih luas dan aktual, siswa dapat mencari dan mengolah sendiri informasi. Tetapi karyawisata memerlukan waktu yang panjang dan biaya, memerlukan perencanaan dan persiapan yang tidak sebentar.
8. Metode Penugasan
Metode ini berarti guru memberi tugas tertentu agar siswa melakukan kegiatan belajar. Metode ini dapat mengembangkan kemandirian siswa, meransang untuk belajar lebih banyak, membina disiplin dan tanggung jawab siswa, dan membina kebiasaan mencari dan mengolah sendiri informasi. Tetapi dlam metode ini sulit mengawasi mengenai kemungkinan siswa tidak bekerja secara mandiri.
9. Metode Eksperimen
Metode eksperimen adalah cara penyajian pelajaran dengan menggunakan percobaan. Dengan melakukan eksperimen, siswa menjadi akan lebih yakin atas suatu hal daripada hanya menerima dari guru dan buku, dapat memperkaya pengalaman, mengembangkan sikap ilmiah, dan hasil belajar akan bertahan lebih lama dalam ingatan siswa. Metode ini paling tepat apabila digunakan untuk merealisasikan pembelajaran dengan pendekatan inkuiri atau pendekatan penemuan.
10. Metode Bermain Peran
Pembelajaran dengan metode bermain peran adalah pembelajaran dengan cara seolah – olah berada dalam suatu situasi untuk memperoleh suatu pemahaman tentang suatu konsep. Dalam metode ini siswa berkesempatanm terlibat secara aktif sehingga akan lebih memahami konsep dan lebih lama mengingat, tetapi memerlukan waktu lama.
11. Metode Pemecahan Masalah
Metode pemecahan masalah digunakan guru bila bertujuan untuk mengembangkan proses berpikir siswa melalui pemberian masalah yang harus dipecahkan. Tergantung dari sifat masalah yang dibawa ke dalam kelas, teknik pemecahan masalahnya dapat dilaksanakan secara berkelompok atau secara individual, dapat dikerjakan di dalam kelas atau sebagai tugas di luar kelas.
12. Metode Penemuan
Kata penemuan sebagai metode mengajar merupakan penemuan yang dilakukan siswa. Dalam belajarnya ia menemukan sendiri sesuatu yang baru. Ini tidak berarti yang ditemukannya benar-benar baru, sebab sudah diketahui yang lain.
Dengan metode ini, siswa didorong oleh rasa ingin tahu (coriousity) untuk mengeksplorasi dan belajar sendiri. Pemahaman suatu konsep didapat siswa melalui proses. Dengan metode ini lebih ditekankan kepada proses penemuan konsep dan bukan produknya.
Secara umum individu mengorganisasikan pikirannya hingga ia menemukan pola piker yang baru yang membawa ia lebih dekat pada keseimbangan internal dan eksternal.
D. Implikasi Pendekatan dan Metode Pendidikan MIPA
Dalam pembelajaran matematika dan sains, meskipun saat ini berkembang berbagai model ataupun pendekatan pembelajaran, namun tidak menjamin dapat menciptakan pembelajaran yang efektif. Keberhasilan pembelajaran sangat bergantung bagaimana guru tersebut mengelola pembelajarannya. Namun demikian terdapat beberapa prinsip yang dapat dicoba diterapkan untuk menciptakan pembelajaran yang baik, di antaranya: dapat membangun pengetahuan siswa, mampu mengungkap dan mendiskusikan miskonsepsi yang terjadi di kalangan siswa, mampu menciptakan dan mengembangkan pertanyaan-pertanyaan yang efektif, terbiasa dengan menciptakan lingkungan belajar dalam bentuk pemanfaatan kelompok-kelompok kecil, memiliki kesadaran untuk lebih mengutamakan proses daripada hasil akhir, memiliki kemampuan untuk mengelola pembelajaran melalui keterkaitan berbagai ide, dan memiliki kemampuan untuk memanfaatkan berbagai media seperti komputer dan internet untuk memaksimalkan pembelajaran baik di dalam maupun di luar kelas.
Pendekatan dan metode yang dipilih guru dalam memberikan suatu materi pelajaran sangat menentukan terhadap keberhasilan proses pembelajaran. Tidak pernah ada satu pendekatan dan metode yang cocok untuk semua materi pelajaran, dan pada umumnya untuk merealisasikan satu pendekatan dalam mencapai tujuan digunakan multi metode.
Metode dibedakan dari pendekatan ; metode lebih menekankan pada pelaksanaan kegiatan, sedangkan pendekatan ditekankan pada perencanaannya. Ada lima hal yang perlu diperhatikan guru dalam memilih suatu metode mengajar yaitu :
Kemampuan guru dalam menggunakan metode.
Tujuan pengajaran yang akan dicapai.
Bahan pengajaran yang perlu dipelajari siswa.
Perbedaan individual dalam memanfaatkan inderanya.
Sarana dan prasarana yang ada di sekolah.
Agar pendekatan dan metode yang telah dibahas di atas dapat terlaksana, apabila ditunjang oleh beberapa factor, yaitu tenaga guru yang bermutu dan profesional, murid dan bahan pelajaran, motivasi, dan sarana laboratorium dan peralatannya.
Dalam mengantisipasi situasi yang demikian, guru masa depan hendaknya merupakan perancang, inovator, motivator, memiliki kemampuan pribadi yang memadai dan sekaligus sebagai pengembang. Sedangkan untuk mewujudkan hal tersebut, perlu dukungan pemerintah dalam bentuk pembenahan dibeberapa unsur, seperti: perekrutan guru matematika yang memenuhi standar kompetensi, melatih guru matematika yang tidak sesuai keahliannya, penyelenggaraan penyegaran untuk selalu memperbaharui pengetahuan guru, dan menerapkan penghargaan dan sanksi yang tegas kepada para guru.
BAB III
PENUTUP



A. Kesimpulan
1. Metode dibedakan dari pendekatan. Pendekatan lebih menekankan pada strategi dalam perencanaan, sedangkan metode lebih menekankan pada teknik pelaksanaannya. Satu pendekatan yang direncanakan untuk satu pembelajaran mungkin dalam pelaksanaan proses tersebut digunakan beberapa metode.
2. Pembelajaran matematika dan sains di sekolah tidak dapat dilepaskan dari pendekatan yang digunakan oleh guru. Pendekatan tersebut meliputi pendekatan tujuan pembelajaran, pendekatan pengorganisasian konsep, pendekatan lingkungan, pendekatan inkuiri, Pendekatan penemuan (discovery), pendekatan proses, pendekatan interaktif (pendekatan pertanyaan anak), pendekatan pemecahan masalah (Problem Solving Approach), pendekatan sains, teknologi, dan masyarakat (STM), pendekatan terpadu, pendekatan tingkat perkembangan dari Piaget, pendekatan induktif-deduktif dari Hilda Taba, dan pendekatan open-ended.
3. Beberapa metode yang sering digunakan dalam pembelajaran adalah metode ceramah bermakna, metode tanya jawab, metode diskusi, metode belajar kooperatif, metode demonstrasi, metode ekspositori atau pameran, metode karyawisata/ widyawisata, metode penugasan, metode eksperimen, metode bermain peran, metode pemecahan masalah, dan metode penemuan.
4. Pendekatan dan metode pembelajaran dalam matematika dan sains dapat terlaksana apabila ditunjang oleh beberapa factor, yaitu tenaga guru yang bermutu dan profesional, murid dan bahan pelajaran, motivasi, dan sarana laboratorium dan peralatannya.


B. Saran
Kritik dan saran yang membangun dari pembaca senantiasa kami (penyusun) tunggu agar penyusunan makalah ini lebih baik lagi sehingga mendekati sempurna.

1 Response to "Dasar-dasar Pendidikan MIPA"

  1. Anonim Says:
    6 Januari 2011 06.07

    assalamu'alaikum...
    menurut saya tolong perbanyak lagi materi-materi yang ditampilkan supaya lebih banyak pengetahuan yang kami dapat disini.

Poskan Komentar