Senyawa Beracun dalam Bahan Pangan

BAB I
PENDAHULUAN

Pangan adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati dan air, baik yang diolah maupun tidak diolah, yang diperuntukkan sebagai makanan atau minuman bagi konsumsi manusia, termasuk didalamnya adalah bahan tambahan pangan, bahan baku pangan, dan bahan lain yang sengaja ataupun tidak disengaja bercampur dengan makanan atau minuman tersebut.
Apapun jenis pangan, produksi pangan merupakan kegiatan atau proses menghasilkan, menyiapkan, mengoalah, membuat, mengawetkan, mengemas, mengemas kembali dan atau mengubah bentuk pangan. Setiap usaha produksi pangan harus bertanggung jawab dalam penyelenggaraan kegiatan proses produksi meliputi proses produksi, penyimpanan, pengangkutan, dan peredaran pangan.
Dalam setiap produksi yang menghasilkan pangan tidak lepas dari proses diatas dan proses proses tersebut selalu berkaitan dengan variabel-variabel lain yaitu bahan-bahan kimia untuk membantu proses, misalnya pada proses pengolahan sering digunakan bahan tambahan pangan (BTM) seperti pengawet makanan, pewarna makanan, dan lain lain. Selain itu dalm proses peredaran semisal makanan basah (kue,gorengan, dll) yang dijual di pinggir jalan yang ramai dengan kendaraan bermotor sangat mungkin terkontaminasi dengan zat zat kimia polutan hasil pembakaran kendaraan.
Akan tetapi hal-hal tersebut bukanlah suatu halangan bagi manusia untuk selalu mengkonsumsi makanan ( pangan ) karena makanan adalah kebutuhan pokok manusia. Setiap hari manusia harus makan untuk memberi tenaga pada tubuh. Kebutuhan pokok manusia akan pangan menuntut manusia untuk memperhatikan hal-hal berikut dalam proses produksi makanan, yaitu
mencegah tercemarnya makanan oleh cemaran biologi, kimia dan benda lain yang dapat mengganggu, merugikan, dan membahayakan kesehatan konsumen.
Mengendalikan proses antara lain bahan baku, penggunaan bahan tambahan makanan, pengolahan, pengemasan, penyimpanan, dan pengangkutan serta cara penyajian.
Memang sudah ada UU Nomor 7 Tahun 1996 yang mengatur tentang pangan, pasal-pasal dan ayat-ayatnya mengatur kesehatan pangan dan keselamatan manusia. Ada segudang aturan yang memberi rambu bagaimana suatu bahan pangan diproduksi dan diperdagangkan. Yang menjadi persoalannya adalah, bagaimana menjamin bahwa UU Pangan bisa dipahami masyarakat dan memberikan jaminan hukum yang operasional di tengah-tengah masyarakat? Bagaiamana UU itu tidak hanya menjadi teks legislasi, namun mampu diterapkan dan hidup di kesadaran masyarakat?

Memang sudah ada Badan Pengawas Obat dan Makanan, yang selalu melakukan inspeksi mendadak serta pengawasan ke pasar-pasar dan pusat perbelanjaan. Namun banyak kalangan yang menilai hanya terkesan reaktif, melakukan sidak manakala ada reaksi heboh dari masyarakat berkenaan isu beredarnya suatu bahan makanan dan makanan yang tidak aman dan sehat.








BAB II
BAHAN BERACUN DALAM BAHAN MAKANAN
I. Penyebab Terkontaminasinya Pangan Oleh Bahan Kimia Beracun
a. Penyediaan Bahan Baku
Suatu produk makanan bisa terkontaminasi bahan kimia beracun berawal dari penyediaan bahan baku. Bahan baku makanan yang kebanyakan merupakan hasil dari proses penanaman ( tumbuhan ). Semakin berkembangnya zaman, dalam proses penanaman suatu bahan pangan tidak lepas dari berbagai zat kimia seperti pupuk, ataupun obat anti hama.
b. Penggunaan Pupuk
Penggunaan pupuk dalam proses penanaman adalah salah satu faktor yang menyebabkan terakumulasinya bahan kimia beracun dalam bahan pangan.pupuk pupuk sintesis yang banyak digunakan saat ini merupakan faktor yang dominan. Misalnya pupuk sintesis yang mengandung bahan kimia beracun antara lain DDT. Penggunaan DDT dalam proses pemupukan menimbulkan efek yang dahsyat pada tanaman. Selain DDT penggunaan pupuk sintesis seperti ureu NPK, ZA juga menambah jumlah akumulasi zat kimia beracun di dalam tanaman
Penggunaan obat anti hama juga merupakan faktor yang menyebabkan terakumulasinya zat zat kimia beracun dalam bahan makanan.Akan tetapi mekanisme secara umum berbeda dengan pupuk. Obat anti hama yang biasanya diberikan dengan cara penyemprotan memudahkan bahan-bahan kimia tersebut terakumulasi dalam tubuh tumbuhan melalui pori-pori daun ( stomata, lenti sel )
c. Proses Pengolahan
Tahap proses pengolahan pangan merupakan tahap yang paling potensial untuk bercampurnya pangan dengan bahan-bahan kimia berbahaya karena pada proses ini sering ditambahkan bahan tambahan pangan ( BTP ).
Bahan tambahan pangan secara umum adalah bahan yang biasanya tidak digunakan sebagai makanan dan biasanya bukan merupakan komponen khas makanan, mempunyai atau tidak mempunyai nilai gizi, yang dengan sengaja ditambahkan ke dalam makanan untuk maksud teknologi pengolahan.
Tujuan penggunaan bahan tambahan pangan adalah dapat meningkatkan atau mempertahankan nilai gizi, dan kualitas daya simpan, membuat bahan pangan mudah dihidangkan, serta mempermudah preparasi bahan pangan. Jenis bahan tambahan pangan ada dua jenis yaitu GRAS ( General Rocognized as Safe), zat ini aman dan tidak berefek toksik misalnya gula ( glukosa ). Sedangkan jenis lainnya yaitu ADI (Acceptable Daily Intake ) jenis ini selalu ditetapkan batas penggunaan hariannya ( daily Intake ) demi menjaga melindungi kesehatan konsumen.
d. Pengawet Anorganik
Pada kenyataan bahwa semua bahan kimia yang digunakan sebagi bahan pengawet adalah racun, tetapi toksisitasnya sangat ditentukan oleh jumlah yang diperlukan untuk menghasilkan pengaruh atau gangguan kesehatan atau sakit, karena itulah diadakan konsep ADI ( acceptable Daily Intake ). Contoh bahan pengawet anorganik antara lain :
*Sulfur Oksida
Sulfur Oksida merupakan bahan pengawet yang sangat luas pemakaiannya, namun pada dosis tertentu dapat menimbulkan gangguan pada kesehatan tetapi belum ada pengganti belerang dioksida yang sama efektifnya. Keracunan sulfur dioksida dapat menyebabkan luka usus dan suatu hasil penelitian menyatakan bahwa anak-anak pengidap asma hipersensitivitas atau intolerasnsinya terhadap bahan pengawet lebih kecil dibanding dengan orang dewasa.
*Nitrit
Dalam bahan pangan dalam kondisi tertentu akan terjadi reaksi antara nitrit dan beberapa amin secara alami sehingga membentuk senyawa nitosoamin yang dikenal sebagai senyawa karsinogenik.
Baik dalam pangan maupun pencernaan, senyawa mudah diubah menjadi nitrit, yaitu senyawa yang tergolong racun, khususnya NO yang terserap dalam darah, mengubah hemoglobin darah manusia menjadi nitrose hemoglobin atau methaemoglobin yang tidak berdaya lagi mengangkut oksigen. Kebanyakan methaemoglobin, penderita menjadi pucat, cianosis, sesak nafas, muntah, dan shock dan bisa mati bila dosis leboih dari 70%.
Bahan tambahan pangan yang bisa menyebabkan kanker pada manusia atau hewan tidak boleh dianggap aman dan evaluasi penelitian terakhir menunjukkan bahwa bahan tambahan makanan yang berbahaya meliputi sifat karsinogenik, mutagenic toksisitas, bahan tambahan pangan yang terlarang tersebut antara lain:
*Asam Borat
Asam borat merupakan senyawa bor yang dikenal juga dengan nama borax. Di Jawa Barat dikenal juga dengan nama” bleng”, di jawa tengah dan jawa timur dikenal denag nama “pijer”. Tujuan penambahan boraks pada proses pengolahan makanan adalah untuk meningkatkan kekenyalan, kerenyahan , serta memberikanras gurih dan kepadatan terutama pada jenis makanan yang mengandung pati.
Oleh karena toksisitas lemah sehingga dapat digunakan sebagai bahan pengawet pangan. Walaupun demikian, pemakaian berulang atau absorpsi berlebihan dapat mengakibatkan toksik ( keracunan ). Gejala dapat berupa mual, muntah, diare, suhu tubuh menurun, lemah,sakit kepala, rash erythematous, anoreksia, berat badan menurun, ruam kulit, anemia, dan konvulsi dan bahkan bisa menimbulkan shock. Dan bila dikonsumsi terus menerus bisa menyebabkan gangguan pada gerak pencernaan usus, kelainan pada susunan saraf, depresi, dan kekacaun mental. Dalam jumlah serta dosis tertentu borak bisa menyebabkan degradasi mental,serta rusaknyta saluran pencernaan, ginjal, hati, dan kulit karena boraks cepat terabsorpsi oleh saluran pernapasan dan pencernaan, kulit luka, atau membrane mukosa.
*Formalin
Formalin merupakan gas formaldehid yang tersedia dalam bentuk larutan 40% (40% gas formaldehid dalam air ). Formalin bisa berbentuk cairan jernih, tidak berwarna, dan berbau menusuk, uapnya merangsang selaput lender hidung dan tenggorokan,dan rasa membakar, atau berbentuk tablet dengan berat masing masing 5 gram.
Formalin sebenarnya adalah bahan pengawet yang digunakan dalam dunia kedokteran, misalnya sebagai bahan pengawet mayat..
Formalin memberi dampak yang sangat membhayakan bagi kesehatan manusia berdasarkan konsentrasi dari subtansi formaldehid yang terdapat di udara dan juga dalam produk produk pangan. Formalin jika dalam konsentrasi yang tinggi dalam tubuh, akan bereaksi secara kimia denagn hampir semua zat kimia di dalm sel dan menyebabkan kematian sel yang menyebabkan keracunan pada tubuh.selain itu. Kandungan formalin yang tinggi dalam tubuh juga menyebabkan iritasi lambung, alergi, bersifat karsinogenik dan bersifat mutagenic, serta orang yang mengonsumsi akan muntah, diare bercampur darah, dan kematian yang disebabkan kegagalan dalam peredaran darah. DepKes RI berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan RI No 722/MenKes/Per/IX/88 mendefinisikan bahan tambahan pangan seperti formalin merupakan bahan tambahan pangan yang dilarang.
*Dulsin
Dulsin atau dulcin juga dikenal dengan nama perdagangan sucrol, valsin merupakan senyawa p-etoxiphenil-urea,p-phenetilurea atau p-phenetolkarbamida dengan rumus C9H12N2O2. Dulsin dalam bahn pangan digunakan sebagi pengganti sukrosa bagi orang yang perlu diet karena dulsin tidak memiliki nilai gizi.
Kristal dulsin membentuk jarum yang mengkilap dan intensitas rasa manisnya sekitar 250 kali ( antara 70 – 350 kali ) dari rasa manis sukrosa.
Konsumsi dulsin yang berlebihan akan menimbulkan dampak yang membahayakn bagi kesehatan, karena ternyata dosis kematian pada anjing sebesar 1,0 gl/2 kg.
*Nitrofurazon
Nitrofurazon memiliki rumus kimia C6H6N4O4. Nitrofurazon memiliki sifat, berwarna kuning muda, berasa pahit, terukur pada panjang gelombang maksimum 375 nm.larut sangat baik dalm air dengan perbandingan 1:4200 dan larutv dalam alcohol dengan perabndiangan 1: 590, dalam propylene glycol dengan perbandingan 1:350. Dapat larut dalam larutan alkalin dengan menunjukkan warna jingga terang. Efek farmakologi nitrofuran dari hasil penelitian terhadap tikus, maka LD50 datri zat ini adalah 0,59 g/kg pemberian secara oral dapat menyebabkan skin lessison pada kulit serta infeksi pada kandung kemih.
*Asam Salisilat
Asam salisilat memiliki rumus kimia C7H6O3. Penggunaan asam salisilat dalam pangan ditambahkan sebagi aroma penguat rasa. Komposisi asam salisilat mengandung tidak kurang dari 99,5% C7H6O3, berbentuk hablur ringan tak berwarna, atau serbuk berwarna putih dengan rasa agak manis dan tajam, biasanya tak berawarna tetapi serbuknya mengiritasi hidung.
II. Bahan Kimia Beracun Lain Dalam Makanan
1. Rhodamin B & Metanil Yellow
Selain boraks dan formalin, masih banyak bahan kimia berbahaya yang digunakan produsen makanan yang perlu diwaspadai konsumen, antara lain, zat pewarna merah Rhodamin B dan Metanil Yellow (pewarna kuning). Berdasarkan hasil penelitian banyak ditemukan zat pewarna Rhodamin dan Metanil Yellow pada produk industri rumah tangga. Rhodamin adalah bahan kimia yang digunakan untuk pewarna merah pada industri tekstil plastik.
Rhodamin B dan Menatil Yellow biasanya sering digunakan untuk mewarnai makanan seperti, kerupuk, makanan ringan, terasi, kembang gula, sirup, biskuit, sosis, makaroni goreng, minuman ringan, cendol, manisan, gipang dan ikan asap. Makanan yang diberi zat pewarna ini biasanya berwarna lebih terang dan memiliki rasa agak pahit. Kelebihan dosis Rhodamin B dan Metanil Yellow bisa menyebabkan kanker, keracunan, iritasi paru-paru, mata, tenggorokan, hidung dan usus.
2. Boraks Dan Asam Salisilat
Selain Rhodamin B dan Metanil Yellow, konsumen juga perlu waspada dengan pemakaian bahan kimia lain. Pasalnya, kajian terhadap penelitian yang dilakukan di Indonesia, ada beberapa kasus penyalahgunaan bahan kimia yang dicampurkan dalam bahan makanan. Bahan kimia yang sering disalahgunakan pemakaiannya adalah asam borat (borak), asam salisilat (aspirin), diettilpirokarbonat (DEP), kalium bromat, kalium klorat, brominated vegetable oil (BVO), dan kloramfenikol. Bahan makanan seperti itu pernah ditemukan, terutama pada produk makanan industri rumah tangga.
Beberapa kasus yang pernah ditemukan adalah penggunaan asam salisilat pada produksi buah dan sayur. Asam salisilat bukan pestisida, melainkan sejenis antiseptik yang salah satu fungsinya untuk memperpanjang daya keawetan. Biasanya sayur yang disemprot asam salisilat berpenampilan sangat mulus tak ada lubang bekas hama. Pada sebagian petani ada juga yang coba-coba menggunakan bahan kimia untuk mengusir hama. Salah satu bahan yang digunakan untuk itu adalah asam salisilat.
Asam salisilat yang disemprotkan pada buah untuk mencegah jamur, sedangkan pada sayuran, asam salisilat digunakan untuk mencegah hama. Sebuah survei menyebutkan asam salisilat pada sayuran non-organik jumlahnya enam kali lebih banyak dibandingkan sayuran organik. asam salisilat akan terserap tanaman dan meninggalkan residu dalam jaringan tanaman. Karena residunya ada dalam jaringan, maka asam salisilat tak akan hilang meskipun sayur atau buah dicuci bersih.
Berikut ini salah satu contoh produk pangan yang mengandung kimia berbahaya :
1. Melamin
Ditemukan melamin dalam produk pangan semakin memperpanjang daftar pangan di Indonesia yang terkontaminasi bahan kimia berbahaya. Selama kita mengenal melamin mungkin hanya dari peralatan makanan dan minuman yang kita pakai, seperti mangkok, gelas, atau piring melamin.
Formalin merupakan larutan yang komersial dengan konsentrasi 10-40% dari formaldehid. Bahan ini biasanya digunakan sebagai bahan antiseptik, germisida dan pengawet. Fungsinya sering diselewengkan untuk bahan pengawet makanan dengan alasan karena biaya lebih murah seperti mengawetkan ikan, dengan sebotol kecil dapat mengawetkan ikan secara praktis tanpa harus memakai batu es.
Formalin masuk kedalam tubuh manusia melalui dua jalan yakni pernapasan dan mulut. Sebetulnya kita setiap hari menghirup formalin dari lingkungkan sekitar yang dihasilkan oleh asap knalpot dan pabrik yang mengandung formalin, mau tidak mau kita akan menghisapnya. Formalin juga dapat menyebabkan kanker (zat yang bersifat karsinogenik). Bila terhirup formalin dapat menyebabkan iritasi pada hidung dan tenggorokan, gangguan pernapasan, rasa terbakar pada hidung dan tenggorokan serta batuk, kerusakan pada sistem saluran pernapasan bisa menganggu paru-paru berupa pneumonia (radang paru-paru) atau edema paru.
Bila terkena kulit dapat menimbulkan perubahan warna, kulit menjadi merah, mengeras, mati rasa dan rasa terbakar. Apabila terkena mata menimbulkan iritasi, memerah, rasanya sakit dan gatal-gatal. Bila konsentrasi tinggi maka menyebabkan pengeluaran air mata yang hebat dan kerusakan pada lensa mata.
2. Boraks sebagai Pengenyal
Ini merupakan senyawa yang bisa memperbaiki tekstur makanan sehingga menghasilkan rupa yang bagus pada makanan seperti bakso dan kerupuk. Bakso yang menggunakan boraks memiliki kekenyalan yang kas yang berbeda dari bakso yang menggunakan banyak daging, sehingga terasa renyah dan disukai serta tahan lama. Sedang kerupuk yang mengandung boraks kalau digoreng akan mengembang dan empuk, teksturnya bagus dan renyah.
Dalam industri borks dipakai untuk mengawetkan kayu, anti septic kayu dan pengontrol kecoa. Bahaya boraks terhadap kesehatan diserap melalui usus, kulit yang rusak dan selaput lender. Jika dikonsumsi dalam jangka waktu lama atau berulang-ulang akan memiliki efek toksik. Pengaruh kesehatan secara akut adalah muntah dan diare. Dalam jangka waktu panjang dapat menyebabkan gangguan pencernaan, nafsu makan menurun, anemia, rambut rontok, dan kanker.
3. Pemanis Buatan
BPOM menjelaskan pemanis buatan hanya digunakan pada pangan rendah kalori dan pangan tanpa penambahan gula, namun kenyatannya banyak ditemukan pada produk permen, jelly dan minuman yang mengandung pemanis buatan. Dan ini juga bukan hanya ditemukan pada merk-merk terkenal, tapi juga pada produk yang beriklan ditelevisi.
Bukan Cuma mengandung konsentrasi tinggi, tapi produk ini juga berupaya menyembunyikan sesuau. Beberapa produk bahkan juga tidak mencantumkan batas maksimum penggunaan pemanis buatan Aspartam. Pemakaian Aspartam berlebihan memicu kanker dan leukimia pada tikus, bahkan pada dosis pemberian Aspartam hanya 20mg/Kg BB.
4. Pewarna Tekstil
4. Pewarna Tekstil
Zat pewarna alami sudah dikenal sejak dulu dalam industri makanan untuk meningkatkan daya tarik produk makanan sehingga konsumen tergugah untuk membelinya. Namun celakanya ada juga penyalahgunaan dengan adanya pewarna buatan yang tidak diizinkan untuk digunakan sebagai zat adiktif. Contoh yang sering ditemui adalah penggunaan bahan pewarna Rhodamin B, yaitu zat pewarna yang lazim digunakan dalam industri tekstil, namun digunakan dalam zat pewarna makanan. Berbagai penelitian dan uji telah membuktikan bahwa penggunaan zat makanan ini dapat menyebabkan kerusakan pada organ
Keracunan yang disebut juga intoksikasi disebabkan mengkonsumsi makanan yang telah mengandung senyawa beracun yang diproduksi oleh mikroba, baik bakteri maupun kapang. Beberapa senyawa racun yang dapat menyebabkan intoksikasi adalah bakteri Clostridium botulinum, Staphylococcus aureus, dan Pseudomonas cocovenenas. Sedang dari kapang biasanya disebut mikotoksinya itu Aspergillus flavus, Penicillium sp, dan lain sebagainya.
Akumulasi senyawa toksik tersebut merupakan bom waktu bagi meletusnya berbagai penyakit. Cepat lambatnya hal itu terjadi sangat berkaitan erat dengan sistem imuniti tubuh dan status gizi seseorang. Bahan toksik yang terbawa oleh makanan bisa bersumber dari lima hal, yaitu:
1. Secara alami terdapat di dalam makanan itu sendiri, seperti antitripsin pada kedel asam jengkolat pada jengkol, dan hemaglutinin pada kacang-kacangan mentah.
2. Akibat reaksi-reaksi kimia dari komponen pangan yang terjadi selama proses pengolahan dan penyimpanan.
3. Akibat penambahan senyawa tertentu selama proses pengolahan pangan, misalnya penggunaan bahan tambahan pangan (food additives) secara berlebih atau penggunaan senyawa kimia yang beracun.
4. Akibat migrasi senyawa beracun dari wadah/kemasan ke dalam makanan, misalnya monomer dari plastik atau logam besi dari koran bekas.
5. Akibat kontaminasi dari lingkungan yang tidak sehat, berupa kontaminasi senyawa kimia yang beracun atau mikroba penghasil racun.
Unsur toksik tersebut menjadi beban, sehingga tubuh dipaksa untuk bekerja ekstra keras dan melampaui batas kemampuannya. Akibatnya, kemampuan untu sehat kembali (recovery) menjadi kian terbatas. Karena itu, sekali waktu kita perlu ‘berpuasa’ untuk membuang bahan bahan beracun yang bisa menganggu sel, jaringan dan organ dalam tubuh. Begitu racun berhasil dilepaskan, tubuh akan punya kesempatan untuk sehat kembali.
Bahan pangan, baik itu hewani maupun nabati adakalanya secara alamiah sudah mengandung racunseperti asam sianida (HCN) pada singkong atau solanin
pada kentang. Adakalanya racun didalam bahan pangan nampak tidak membahayakan, baik dari warna, aroma, rasa maupun kenampakannya.
Gejala Keracunan
Keracunan makanan biasanya terjadi karena masuknya senyawa-senyawa beracun ke dalam tubuh. Sebagian besar kasus, racun ikut tertelan ke dalam tubuh bersamaan dengan makanan yang kita konsumsi. Gejala yang timbul biasanya ditandai dengan terganggunya sistem pencernaan, seperti mual, muntah dan kolik pada saluran pernafasan.
Bahan Pangan yang Perlu Diwaspadai
Singkong. Kita semua pasti mengenal tanaman ini, umbinya kaya akan kandungan karbohidrat dan daunnya tinggi vitamin A, kondisi ini menjadikan singkong sangat potensial sebagai alternatif lain sumber kalori bagi tubuh. Tetapi siapas angka, varietas singkong jenis Sao Pedro Petro, baik pada umbi maupun daunnya mengandung glikosida cayanogenik. Zat ini dapat menghasilkan asam sianida (HCN atau senyawa asam biru yang bersifat sangat toksik (beracun). Umbi dan daun singkong yang mengandung racun dan biasanya berasa pahit.
Perebusan dan perendaman dalam air mengalir dapat mengurangi kandungan racun yang terkandung karena, sifat dari asam sianida larut di dalam air. Jengkol (PithecolobiumLobatum) dan petai Cina Sejenis biji-bijian yang enak di olahs ebagai semur, botok maupun di makan mentah sebagai lalap.
Kentang (Solanum Tuberosum L) Di dalam kentang terkandung alkoloid (solanin) yang dapat menimbulkan keracunan. Racun ini sebagian
besar terdapat pada bagian dekat kulit. Solaninakan
semakin banyak jumlahnya jika kulit kentang sudah berwarnahijau dan bertunas karena disimpan dalam jangka waktu lama.
Hasil olah kacang-kacangan yang perludiwaspadaiadalah tempe, terutama tempe bongkrek. Fermentasi yang gagal dan hygiene yang buruk dalam proses pembuatan tempe dapat mengakibatkan kontaminasi bakteri. Pseudomonas cocovenans adala hsalah satunya. Bakteri ini akan menghasilkan toxoflavin, senyawayang sangat beracun dan dapat mengakibatkan kematian. Hindarilah konsumsi kacang-kacangan dan hasil olahan
yang sudah rusak dan beraroma menyimpang (tengik). Untuk produk yang dikalengkan perhatikan tanggal kedaluarsa dan keutuhan kemasan.
Susu Segar. Susu, terutama susu segar mudah sekali mengalami kerusakan. Bakteri staphylococcus Aureus salah satu
jasad renik yang menyukai susu sebagai media hidupnya. Keracunan bakteri ini biasanya ditandai dengan gangguan sistem pencernaan seperti, mual, muntah dan diare. Pencegahan bisa dilakukan dengan perebusan susu segar selama 10 menit pada suhu 66oC. Pada suhu ini biasanya bakter iakan mati. Biasakan memanaskan susu segar sebelum dikonsumsi dan jangan membiarkan susu segar pada suhu ruang.
Ikan dan Udang. Keracunan ikan, udang, kerang dan hasil laut biasanya karena telah terkontaminasi zat-zat kimia beracun. Pencemaran merkuri, timah dan logam-logam berat lainnya, seringkali terkandung dalam produk seafood. Meningkatnya pencemaran laut dan menurunya kualitas air sebagai medium hidup mereka adalah salah satu penyebabnya. Frozen seafood atau hasil laut yang sudah dibekukan lama juga media yang baik untuk berkembangnya Vibrioparahaemolyticus, sejenis bakteri yang sangat beracun.

Disusun oleh Mega Febrianti dan Nurasmi Nurdin

0 Response to "Senyawa Beracun dalam Bahan Pangan"

Posting Komentar